Berjalan Kaki di Kota yang Tergesa
Trotoar adalah ukuran paling jujur tentang siapa yang diutamakan sebuah kota.
Herlin Septiani24 Agustus 20268 menit baca
Pagi belum sepenuhnya terang ketika warga mulai berkumpul di ujung gang. Mereka membawa catatan, foto lama, dan ingatan yang tidak pernah dicatat siapa pun. Dari situ, cerita ini dimulai: bukan dari ruang rapat, melainkan dari pinggir.
Selama tiga pekan, kami menyusuri dokumen perizinan, mendatangi kantor dinas, dan duduk lama bersama warga yang paling terdampak. Data yang kami kumpulkan menunjukkan pola yang berulang: keputusan diambil jauh dari orang-orang yang menanggung akibatnya.
“Kami tidak pernah diajak bicara. Yang datang hanya surat,” kata seorang warga sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja plastiknya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi merangkum jarak antara kebijakan dan kehidupan sehari-hari.
Pemerintah daerah menyatakan telah menjalankan prosedur sesuai aturan. Namun ketika kami meminta salinan kajian dampak, jawaban yang kami terima berputar dari satu meja ke meja lain selama dua pekan penuh.
Di tengah itu semua, warga tetap bergerak. Mereka membangun sistem peringatan sendiri, memetakan titik rawan dengan aplikasi sederhana, dan bergiliran menjaga saluran air setiap kali hujan turun terlalu lama.
Cerita ini belum selesai. Kami akan terus mengikutinya, karena persoalan yang tampak lokal ini sesungguhnya menyangkut cara kita membayangkan kota: untuk siapa ia dibangun, dan siapa yang diminta mengalah.
“Kota yang sehat adalah kota yang mau mendengar orang-orang yang paling jarang didengar.”
Laporan ini bagian dari purwarupa desain BandungBergerak.id. Isi artikel bersifat contoh.
Baca juga

Di Balik Hutan yang Hilang, Apakah Negara Benar-benar Belajar dari Bencana?
Negara tidak cukup hanya hadir setelah bencana, negara juga harus hadir sebelum bencana itu terjadi.
Herlin Septiani29 Agustus 20269 menit baca
Esai Terpilih Juli 2026: Membaca Bandung dari Ruang Kota hingga Beban Sehari-hari
Tujuh esai yang menautkan pengalaman personal dengan persoalan ruang kota.
Redaksi28 Agustus 20266 menit baca
Membaca “Kota yang Tak Selesai”: Catatan atas Sejarah Perencanaan Bandung
Sebuah buku yang menolak menjadikan kota sekadar objek desain.
Herlin Septiani26 Agustus 20265 menit baca
Satu surel, cerita dari pinggir yang tidak Anda temukan di linimasa.
Kami merangkum liputan, esai, dan temuan data setiap pekan. Tanpa iklan, tanpa umpan klik.