Perpustakaan Jalanan Kembali Menggelar Lapak di Taman Cikapayang
Sepuluh tahun membuka buku di trotoar.
Ika Nuraeni22 Agustus 20264 menit baca
Pagi belum sepenuhnya terang ketika warga mulai berkumpul di ujung gang. Mereka membawa catatan, foto lama, dan ingatan yang tidak pernah dicatat siapa pun. Dari situ, cerita ini dimulai: bukan dari ruang rapat, melainkan dari pinggir.
Selama tiga pekan, kami menyusuri dokumen perizinan, mendatangi kantor dinas, dan duduk lama bersama warga yang paling terdampak. Data yang kami kumpulkan menunjukkan pola yang berulang: keputusan diambil jauh dari orang-orang yang menanggung akibatnya.
“Kami tidak pernah diajak bicara. Yang datang hanya surat,” kata seorang warga sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja plastiknya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi merangkum jarak antara kebijakan dan kehidupan sehari-hari.
Pemerintah daerah menyatakan telah menjalankan prosedur sesuai aturan. Namun ketika kami meminta salinan kajian dampak, jawaban yang kami terima berputar dari satu meja ke meja lain selama dua pekan penuh.
Di tengah itu semua, warga tetap bergerak. Mereka membangun sistem peringatan sendiri, memetakan titik rawan dengan aplikasi sederhana, dan bergiliran menjaga saluran air setiap kali hujan turun terlalu lama.
Cerita ini belum selesai. Kami akan terus mengikutinya, karena persoalan yang tampak lokal ini sesungguhnya menyangkut cara kita membayangkan kota: untuk siapa ia dibangun, dan siapa yang diminta mengalah.
“Kota yang sehat adalah kota yang mau mendengar orang-orang yang paling jarang didengar.”
Laporan ini bagian dari purwarupa desain BandungBergerak.id. Isi artikel bersifat contoh.
Baca juga

Kebun Warga di Atas Lahan Sengketa Cibaduyut
Dua tahun menanam di tanah yang statusnya belum pernah jelas.
Tresna Wijaya28 Agustus 20264 menit baca

Anak Muda Ujungberung Merekam Arsip Lisan Kampungnya
Dua ratus jam rekaman yang menolak sejarah tunggal.
Tresna Wijaya26 Agustus 20264 menit baca

Kolektif Pinggir Kali: Belajar Membaca Sungai Bersama Anak-anak Kampung
Setiap Sabtu, puluhan anak memetakan kualitas air Cikapundung dengan alat sederhana.
Tresna Wijaya23 Agustus 20267 menit baca
Satu surel, cerita dari pinggir yang tidak Anda temukan di linimasa.
Kami merangkum liputan, esai, dan temuan data setiap pekan. Tanpa iklan, tanpa umpan klik.